Selasa, 22 Mei 2012

GERAKAN ISLAM KONTEMPORER INDONESIA


TIPOLOGI GERAKAN ISLAM KONTEMPORER INDONESIA
Setalah orde baru kita menemui tiga tipe garakan islam yang ada di Indonesia, yaitu gerakan yang pro syari’at, gerakan islam moderat, dan gerakan dakwah sufistik. Gerakan islam yang pro syari’at adalah gerakan yang menginginkan di jadikannya agama islam sebagai dasar negara, hal ini dilakukan oleh Ormas-ormas islam seperti Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Fron Pembela Islam (FPI), Hijbut Tahir (HT), dan Laskar Jihad. Dalam kacamata islam,penampilan gerakan radikal ini di muka publik menjadi semacam antitesis bagi citra islam yang keras. Sedangkan gerakan dakwah sufistik tidak memiliki agenda perjuangan politik, seperti tokoh-tokoh Aa Gym dan H.Muhammad Arifin Ilham.
Sedangkan Gerakan Islam Moderat merupakan suatu kelompok yang menolak upaya untuk kembali ke piagam Jakarta, secara tredisional gerakan ini diwakili oleh dua ormas besar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Gerakan radikalisme mulai marak pasca serangan 11 September 2001, faktor adanya radikalisme dalam islam dipicu oleh aliran Wahabiah di Arab  Saudi, masalah lain yang menyebabkan berkembangnya liberalisme islam adalah konflik-konflik yang bernuansa politik, sedangkan menurut Karen Amstrong, gerakan-gerakan fundamentalis lahir sebagai reaksi terhadap ideologi sekular yang mengancam agama.
Radikalisme dalam islam yang dilakukan oleh ormas-ormas yang ada di Indonesia seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), serta Laskar Jihid, hampir semua tujuannya sama yaitu menginginkan sebuah adanya negara islam, yaitu negara yang menggunakan syari’at islam sebagai dasar negara, akan tetapi kadang gerakan-gerakan yang mereka lakukan terlalu ekstrim dan keras, sehingga menimbulkan keonaran di mana-mana walaupun sebenarnya niat mereka baik menurutnya.
Dalam buku yang berjudul Islam Negara & Civil Society dalam bab yang bertema Tipologi Gerakan Islam Kontemporer Di Indonesia ini sudah baik pembahasannya juga nyambung akan tetapi sedikit kurang bisa dipahami dan sedikit kurang nyambung pada bagian Teks sebagai al-Turats yang hidup dan bagian Teks vis-a-vis Kebutuhan Aktual.

Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer.
Sejarah pemikir adalah sejarah para pemikir yaitu sejarah kaum elit yang mampu mengabstraksikan fenomena sosial dan gejala lainnya kedalam bahasa intelektual dan ilmiah. Filusuf adalah orang yang paling elit di antara kaum terpelajar. Filusuf adalah istilah klasik untuk menunjukkan kelompok pemikir yang mempunyai massa. Istilah “pemikir” itu sendiri ambigious, bisa diterapkan dimana-mana, tentu dengan intensitas keintelektualan yang berbeda-beda.
Dalam pemikiran Arab kontemporer ada sekelompok pemikir yang berpengaruh hanya karena tulisan-tulisannya, ada yang namanya lebih terkenal dari pemikirannya, dan ada pemikir yang hanya terkenal sebatas dunia akademis, pemikiran Arab pasca kebangkitan biasanya selalu dibedakan antara “moderen” dan “kontemporer”, istilah ini merujuk kepada dua era yang tidak mempunyai penggalan pasti.
A.    Tiga Tipologi Dominan.
Tipologi pertama yaitu, tipologi trasformatik, tipologi ini mewakili para pemikir Arab yang secara radikal mengajukan proses transformatif masyarakat Arab-Muslim dari budaya tradisional-patriarkal kepada masyarakat rasional dan ilmiah, yang kedua adalah Tipologi Reformistik, kelompok ini proyek yang hendak digarap ialah reformasi dengan penafsiran-penafsiran baru yang lebih hidup dan lebih cocok dengan tuntutan zaman.
 Tipologi yang ketiga adalah tipologi pemikiran ideal-totalistik, ciri utama tipologi ini adalah sikap dan pandangan idealis terhadap ajaran islam yang bersifat totalistik, proyek yang hendak meraka garap adalah menghidupkan kembali islam sebagai agama, meraka menolak unsur-unsur asing yang datang dari barat.
Berikut ini beberapa pandangan dari para pemikir dari ketiga kelompok tersebut:
A.    Trasnformatik.
Para pemikr Arab yang mempunyai kecenderungan transformatif kebanyakan berorientasi pada Marxisme, ada dua tokoh dalam hal ini yaitu Thayyib Tayzini dan Abdullah Laroui.
B.     Reformistik.
Secara umum, reformistik adalahkecenderungan yang meyakini bahwa antara turats dan modernitas kedua-duanya adalah baik. Gerakan reformistik dalam dunia Arab modern telah dimulai oleh para pemikir-pemikir muslim semenjak Rifa’at Tahtawi dan al-Tunisi. Puncaknya dari dalam diri Muhammad Abduh, Abduh adalah cikal bakal gerakan reformis yang ada sekarang ini. Gerakan reformistik adalah proses evolusi madrasah Abduh yang beraliran kiri, pada mulanya adalah Abduh, kemudian Qosim Amin, kemudian Ali Abd al-Raziq, kemudian Imarah dan terakhir Hasan Hanafi.
Kelompok kedua yang berafiliasi pada tipologi reformistik adalah para intelektual yang cenderung memakai metode pendekatan deskontruktif, para pemikir deskontruksionis Arab kebanyakan datang dari daerah Maghribi (Maroko, al-Jazair, Tunis dan Libya), tokoh dari kelompok ini adalah Muhammed Arkoun dari al-Jazair, Mohammed Abid Jabiri dari Maroko.   
C.     Ideal-Totalistik.
Tipologi ideal-totalistik diwakili oleh mayoritas pemikir keagamaan yang sangat commited kepada islam sebagai doktrin seluruh aspek kehidupankelompok ini percaya sepenuhnya kepada doktrin islam sebagai satu-satunya alternatif untuk kebangkitan kembali sejarah kegemilangan kaum muslim. Menurut kelompok ini, umat islam harus kembali pada ajaran asli islam yaitu al-Qur’an dan Hadits.
Demikianlah tiga kecenderungan pemikiran Arab yang mewarnai wacana ilmiah Arab kontemporer, kesemuanya berperan dalam menentukan harapan dan obsesi bangsa Arab dimasa mendatang. Tipologi pemikiran Arab koontemporer di atas adalah refleksi dari interaksi dan sikap para intelektual Arab terhadap isu di sekitar tradisi dan modernitas.
B.     Gerakan Faminisme Arab
Dalam salah stu tulisannya tentang trend pemikiran Arab kontemporer, Issa J. Boullata mengatakan, “Mengkaji pemikiran Arab kontemporer tanpa memasukkan pemikiran-pemikiran para wanitanya adalah pekerjaan yang tidak lengkap”. Tidak sedikit para feminis Arab yang mencoba mengaitkan persoalan persoalan utama yang dialami bangsa Arab. Pada awal-awal kebangkitan Arab, persoalan perempuan dan statusnya di dunia Arab pernah dilakukan oleh Qosim Amin.
Ada tiga figur utama dalam gerakan feminis Arab kontemporer, ketiga feminis ini berbeda latar belakang, yaitu, Dr. Nawal Sa’dawi berasal dari Mesir, Fatima Mernissi ahli sosiolog dari Maroko, dan Khalida Sa’id.
Ketiga feminis kontemporer Arab tersebut mempunyai kesamaan beban psikologis tentang ansumsi berlebihan atas permasalahan domonasi dan otoritas gender, ketiga-tiganya sama-sama ingin berontak dari sebuah sistem patriarkal mapan, meski dengan caradan metode yang berbeda.

C.     Peran dan Posisi Filsafat
Usaha-usaha menghidupkan kembali tradisi filsafat telah dilakukan sejak kurang dari stu abad setelah kembalinya Tahtawi dari Paris, dimulai dari Musthafa Abd al-Raziq (1885-1946), kemudian Yusuf Karam (w.1955). Lewat kedua tokoh ini tradisi filsafat kemudian berkembang dan hidup kembali meski tidak secemerlang era kejayaan Arab dulu.
D.    Penutup
Wacana pemikiran Arab kontemporer telah berjalan lebih dari dua dekade, dengan berbagai corak aliran pemikiran yang mewarnainya. Kesimpulan yang dapat ditarik, pertama, Tipologi pemikiran yang dikategorikan sedikit banyak telah mengalami pergeseran, hal ini diakibatkan adanya dialog dan interaksi antara pemikir yang mewakili setiap tipologi tersebut.
Kedua, persoalan besar yang intelektual Arab masih berkisar soal penentuan sikap budaya kepada isu besar : tradisi dan modernitas, ketiga, seiring dengan semakin banyaknya kaum terpelajar di luar negeri, model akulturatif yang diterapkan oleh para pemikir itu pun mengalami perkembangan, keempat, diluar kategorisasi tipologis yang hanya peduli dengan tema-tema tardisi dan modernita, ada beberapa pemikir yang kepeduliannya lebih pada persoalan-persoalan yang bersifat murni akademis (filsafat).

1 komentar: