TIPOLOGI
GERAKAN ISLAM KONTEMPORER INDONESIA
Setalah
orde baru kita menemui tiga tipe garakan islam yang ada di Indonesia, yaitu
gerakan yang pro syari’at, gerakan islam moderat, dan gerakan dakwah sufistik.
Gerakan islam yang pro syari’at adalah gerakan yang menginginkan di jadikannya
agama islam sebagai dasar negara, hal ini dilakukan oleh Ormas-ormas islam
seperti Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI), Fron Pembela Islam (FPI), Hijbut Tahir (HT), dan
Laskar Jihad. Dalam kacamata islam,penampilan gerakan radikal ini di muka
publik menjadi semacam antitesis bagi citra islam yang keras. Sedangkan gerakan
dakwah sufistik tidak memiliki agenda perjuangan politik, seperti tokoh-tokoh
Aa Gym dan H.Muhammad Arifin Ilham.
Sedangkan
Gerakan Islam Moderat merupakan suatu kelompok yang menolak upaya untuk kembali
ke piagam Jakarta, secara tredisional gerakan ini diwakili oleh dua ormas besar
di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Gerakan radikalisme mulai marak pasca
serangan 11 September 2001, faktor adanya radikalisme dalam islam dipicu oleh aliran
Wahabiah di Arab Saudi, masalah lain
yang menyebabkan berkembangnya liberalisme islam adalah konflik-konflik yang
bernuansa politik, sedangkan menurut Karen Amstrong, gerakan-gerakan
fundamentalis lahir sebagai reaksi terhadap ideologi sekular yang mengancam
agama.
Radikalisme
dalam islam yang dilakukan oleh ormas-ormas yang ada di Indonesia seperti Front
Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia
(MMI), serta Laskar Jihid, hampir semua tujuannya sama yaitu menginginkan
sebuah adanya negara islam, yaitu negara yang menggunakan syari’at islam
sebagai dasar negara, akan tetapi kadang gerakan-gerakan yang mereka lakukan
terlalu ekstrim dan keras, sehingga menimbulkan keonaran di mana-mana walaupun
sebenarnya niat mereka baik menurutnya.
Dalam
buku yang berjudul Islam Negara & Civil Society dalam bab yang bertema
Tipologi Gerakan Islam Kontemporer Di Indonesia ini sudah baik pembahasannya
juga nyambung akan tetapi sedikit kurang bisa dipahami dan sedikit kurang
nyambung pada bagian Teks sebagai al-Turats
yang hidup dan bagian Teks vis-a-vis Kebutuhan Aktual.
Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer.
Sejarah
pemikir adalah sejarah para pemikir yaitu sejarah kaum elit yang mampu
mengabstraksikan fenomena sosial dan gejala lainnya kedalam bahasa intelektual
dan ilmiah. Filusuf adalah orang yang paling elit di antara kaum terpelajar.
Filusuf adalah istilah klasik untuk menunjukkan kelompok pemikir yang mempunyai
massa. Istilah “pemikir” itu sendiri ambigious, bisa diterapkan dimana-mana,
tentu dengan intensitas keintelektualan yang berbeda-beda.
Dalam
pemikiran Arab kontemporer ada sekelompok pemikir yang berpengaruh hanya karena
tulisan-tulisannya, ada yang namanya lebih terkenal dari pemikirannya, dan ada
pemikir yang hanya terkenal sebatas dunia akademis, pemikiran Arab pasca
kebangkitan biasanya selalu dibedakan antara “moderen” dan “kontemporer”,
istilah ini merujuk kepada dua era yang tidak mempunyai penggalan pasti.
A. Tiga
Tipologi Dominan.
Tipologi
pertama yaitu, tipologi trasformatik, tipologi ini mewakili para pemikir Arab
yang secara radikal mengajukan proses transformatif masyarakat Arab-Muslim dari
budaya tradisional-patriarkal kepada masyarakat rasional dan ilmiah, yang kedua
adalah Tipologi Reformistik, kelompok ini proyek yang hendak digarap ialah
reformasi dengan penafsiran-penafsiran baru yang lebih hidup dan lebih cocok
dengan tuntutan zaman.
Tipologi yang ketiga adalah tipologi pemikiran
ideal-totalistik, ciri utama tipologi ini adalah sikap dan pandangan idealis
terhadap ajaran islam yang bersifat totalistik, proyek yang hendak meraka garap
adalah menghidupkan kembali islam sebagai agama, meraka menolak unsur-unsur
asing yang datang dari barat.
Berikut
ini beberapa pandangan dari para pemikir dari ketiga kelompok tersebut:
A. Trasnformatik.
Para
pemikr Arab yang mempunyai kecenderungan transformatif kebanyakan berorientasi
pada Marxisme, ada dua tokoh dalam hal ini yaitu Thayyib Tayzini dan Abdullah
Laroui.
B. Reformistik.
Secara
umum, reformistik adalahkecenderungan yang meyakini bahwa antara turats dan
modernitas kedua-duanya adalah baik. Gerakan reformistik dalam dunia Arab
modern telah dimulai oleh para pemikir-pemikir muslim semenjak Rifa’at Tahtawi
dan al-Tunisi. Puncaknya dari dalam diri Muhammad Abduh, Abduh adalah cikal
bakal gerakan reformis yang ada sekarang ini. Gerakan reformistik adalah proses
evolusi madrasah Abduh yang beraliran kiri, pada mulanya adalah Abduh, kemudian
Qosim Amin, kemudian Ali Abd al-Raziq, kemudian Imarah dan terakhir Hasan
Hanafi.
Kelompok
kedua yang berafiliasi pada tipologi reformistik adalah para intelektual yang
cenderung memakai metode pendekatan deskontruktif, para pemikir
deskontruksionis Arab kebanyakan datang dari daerah Maghribi (Maroko,
al-Jazair, Tunis dan Libya), tokoh dari kelompok ini adalah Muhammed Arkoun
dari al-Jazair, Mohammed Abid Jabiri dari Maroko.
C. Ideal-Totalistik.
Tipologi
ideal-totalistik diwakili oleh mayoritas pemikir keagamaan yang sangat commited
kepada islam sebagai doktrin seluruh aspek kehidupankelompok ini percaya
sepenuhnya kepada doktrin islam sebagai satu-satunya alternatif untuk
kebangkitan kembali sejarah kegemilangan kaum muslim. Menurut kelompok ini,
umat islam harus kembali pada ajaran asli islam yaitu al-Qur’an dan Hadits.
Demikianlah
tiga kecenderungan pemikiran Arab yang mewarnai wacana ilmiah Arab kontemporer,
kesemuanya berperan dalam menentukan harapan dan obsesi bangsa Arab dimasa
mendatang. Tipologi pemikiran Arab koontemporer di atas adalah refleksi dari
interaksi dan sikap para intelektual Arab terhadap isu di sekitar tradisi dan
modernitas.
B. Gerakan
Faminisme Arab
Dalam
salah stu tulisannya tentang trend pemikiran Arab kontemporer, Issa J. Boullata
mengatakan, “Mengkaji pemikiran Arab kontemporer tanpa memasukkan
pemikiran-pemikiran para wanitanya adalah pekerjaan yang tidak lengkap”. Tidak
sedikit para feminis Arab yang mencoba mengaitkan persoalan persoalan utama
yang dialami bangsa Arab. Pada awal-awal kebangkitan Arab, persoalan perempuan
dan statusnya di dunia Arab pernah dilakukan oleh Qosim Amin.
Ada
tiga figur utama dalam gerakan feminis Arab kontemporer, ketiga feminis ini
berbeda latar belakang, yaitu, Dr. Nawal Sa’dawi berasal dari Mesir, Fatima
Mernissi ahli sosiolog dari Maroko, dan Khalida Sa’id.
Ketiga
feminis kontemporer Arab tersebut mempunyai kesamaan beban psikologis tentang
ansumsi berlebihan atas permasalahan domonasi dan otoritas gender,
ketiga-tiganya sama-sama ingin berontak dari sebuah sistem patriarkal mapan,
meski dengan caradan metode yang berbeda.
C. Peran
dan Posisi Filsafat
Usaha-usaha
menghidupkan kembali tradisi filsafat telah dilakukan sejak kurang dari stu
abad setelah kembalinya Tahtawi dari Paris, dimulai dari Musthafa Abd al-Raziq
(1885-1946), kemudian Yusuf Karam (w.1955). Lewat kedua tokoh ini tradisi
filsafat kemudian berkembang dan hidup kembali meski tidak secemerlang era
kejayaan Arab dulu.
D. Penutup
Wacana
pemikiran Arab kontemporer telah berjalan lebih dari dua dekade, dengan
berbagai corak aliran pemikiran yang mewarnainya. Kesimpulan yang dapat
ditarik, pertama, Tipologi pemikiran yang dikategorikan sedikit banyak telah
mengalami pergeseran, hal ini diakibatkan adanya dialog dan interaksi antara
pemikir yang mewakili setiap tipologi tersebut.
Kedua,
persoalan besar yang intelektual Arab masih berkisar soal penentuan sikap
budaya kepada isu besar : tradisi dan modernitas, ketiga, seiring dengan
semakin banyaknya kaum terpelajar di luar negeri, model akulturatif yang
diterapkan oleh para pemikir itu pun mengalami perkembangan, keempat, diluar
kategorisasi tipologis yang hanya peduli dengan tema-tema tardisi dan
modernita, ada beberapa pemikir yang kepeduliannya lebih pada
persoalan-persoalan yang bersifat murni akademis (filsafat).